Jumat, 27 Juni 2014

TTM "Ta'aruf Tapi Modus" Part I



Ta’aruf...
Siapa yang tidak tau apa itu ta’aruf. Orang islam tentu tau itu. Ta’aruf merupakan perkenalan antara dua manusia yang dalam hal ini adalah perkenalan antara laki-laki dan perempuan yang mempunyai keinginan untuk saling mengenal. Biasanya, ta’aruf dilakukan bagi mereka yang memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis. Dalam hal ini, islam membolehkan terjadinya ta’aruf. Namun perlu digaris bawahi bahwa ta’aruf berbeda dengan PDKT menuju pacaran. Ta’aruf merupakan langkah awal menuju gerbang pelaminan. Dan ini dilakukan secara syar’iat islam. Jika yang bertanya itu laki-laki maka ia bertanya kepada ayahnya atau saudara laki-laki, jika yang bertanya itu perempuan maka ia bertanya kepada ibuya atau saudara perempuan yang sejak lahir selalu bersama dengannya. Karena orang-orang tersebutlah yang tau siapa dan bagaimana kondisi colon pasangan kita. Kecuali calon pasangan kita tersebut seorang janda atau duda. Maka tak mengapa jika diutarakan secara langsung, namun alangkah lebih baiknya jika melalui keluarganya. Supaya tidak menimbulkan fitnah diantara keduanya.
Tetapi apa yang terjadi di sekitar kita. Ta’aruf tak ada bedanya dengan fase menuju pacaran. Banyak para remaja yang tidak mau membawa lebel pacaran mengubahnya dengan lebel ta’aruf. Hanya saja, praktiknya yang masih salah. Karena pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pacaran dan ta’aruf masih perlu diluruskan. Yang mereka tau pacaran itu tidak boleh karena banyak adegan-adegan yang dilarang seperti suka berduaan, pegangan tangan, ciuman, dan hubungan seks. Sedangkan ta’aruf itu perkenalan saja, untuk mengenal pasangan kita tetapi dilakukan dengan sms, telpon, bertemu langsung tapi tidak melakukan hal hal yang negatif seperti berduaan, pegangan tangan, ciuman, dan hubungan seks. Ini memang menunjukkan perbedaan. Akan tetapi tetap saja belum ter-ACC oleh Agama Islam.

“Walahh...islam aneh juga ya..
Masa mau kenalan gak boleh sms, gag boleh telpon, ketemu gag boleh. Toh kita gag ngelakuin hal-hal yang negatif. Kita smsnya kan ngingetin udah sholat belum, udah makan belum, jangan lupa belajar ya..kan itu positif. Terus kalo misalnya kita sering ketemu lantaran satu tempat kerja, satu sekolah, satu organisasi. Itu gimana?? Masa Cuma diam dan tolak badan lantaran bukan muhrim.”
Wahai saudara ku, saya tau apa yang saudara rasakan. Sulit memang menghindari itu semua, terlebih dizaman yang sudah modern ini. Pacaran dianggap biasa saja, ta’aruf disalah gunakan. Pengaruh lingkungan sangat besar. Lingkungan yang membentuk yang menjadikan semua itu biasa-biasa saja. 
Ada lagi boleh pacaran asal tidak melampaui batas, Pacaran islami. Rasanya sangat tidak mungkin orang yang pacaran tidak melakukan hal-hal yang biasa dilakukan orang pacaran. Yang berkedok ta’aruf saja masih mencuri-curi untuk bisa melampiaskan nafsunya apa lagi yang berlebel pacaran, di tambah pergaulan yang sangat memungkinkan seseorang terpengaruh oleh orang lain.

jika memang kita satu kelas, satu tempat kerja, satu organisasi yang mengharuskan adanya pertemuan dan komunikasi. maka berbicaralah seperlunya saja dan boleh bertemu dengan catatan memang sangat penting. jika tidak ada kepentingan maka tidak perlu dilanjut dengan hal-hal yang bisa menjurus ke arah yang negatif.

Wahai saudara perempuanku....
Dimanakah hati kalian,,,gunakan hati dan pikiran kalian. Apa yang kalian inginkan dari pacaran dan ta’aruf modus ini. apakah sekedar ingin memastikan dia cinta dan sayang kepada kita, apakah hanya ingin diperhatikan, apakah takut tidak ada yang mau dengan kita kalau kita menolak ajakan tersebut.
Jangan khawatir wahai saudaraku...Allah Maha segalanya. Mintalah kepada Tuhanmu,,,jangan takut akan segala sesuatu kecuali takut kepada Allah. Tidak mungkin Allah membiarkan hambanya yang bertaqwa mencerita, tidak mungkin Allah menciptakan kita tanpa adanya pasangan. Bersabarlah dan perbaiki diri sebai mungkin, agar kelak kita bertemu dengan pasangan kita yang sesungguhnya kita butuhkan. Karena apa?? Karena apa yang kita inginkan, belum tentu kita butuhkan, so...serahkan semuanya kepada Allah. Mausia hanya bisa berusaha, berusaha pun harus sesuai koridor islam.

*bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar